Nietszche, Ruach, dan Neurosains: Model Naturalistik atas Konsep Kenabian
Carl Jung dalam salah satu kuliahnya pernah menyatakan bahwa Nietszche adalah nabi pada masa modern. Gelar nabi di sini tidak harus dipahami dalam kerangka agama, tapi lebih kepada seseorang yang sangat sensitif dan mampu mendengar "gemuruh" dari ketidaksadaran kolektif sebelum orang lain sadar. Sehingga ia mampu mempredisi kebangkitan bayang-bayang pada abad ke-20.
Karakter macam Nietszche ini, bisa ada karena telah mengadopsi apa yang ia sebut sebagai arketipe Orang Tua Bijak atau Ruh. Adopsi ini menyebabkanya mengalami "inflasi", yakni kemampuan untuk berbicara dari lapisan pemikiran paling dalam dan non-personal, yang harus dibayar mahal dengan kegilaan yang ia alami.
Tentu kita boleh pesimis dengan apa yang dikemukakan oleh Jung. Sebagaimana Freud, konsep psikologi yang ia kemukakan sangat sulit untuk difalsifikasi, sehingga sangat rentan jatuh ke dalam pseudosains. Meski demikian, konsep arketipe yang Jung ajukan memiliki banyak sekali kemiripan dengan konsep kuno dalam Judaisme, yakni Ruah.
Kata Ruah di sini merujuk kepada konsep Ruah Elohim yang juga memiliki kemiripan dengan konsep Ruh al-Quds di Islam. Dalam Tanakh, Ruh Tuhan ini bersifat dinamis dan seringkali merasuk ke dalam diri orang-orang terpilih. Mereka yang "kerasukan" Ruah Elohim akan menjadi juru bicara Tuhan sekaligus memiliki kekuatan ilahiah. Konsep ini paralel dengan arketipe Jung yang mengambil alih ego seseorang, sehingga membuat orang tersebut menjelma menjadi arketipe yang ia pakai. Pada kasus Nietszche, ia menjelma menjadi Zarathustra.
Ruh Tuhan yang mampu berpindah dari satu orang ke orang lain sepanjang masa inilah, yang kemudian melahirkan konsep kenabian. Mereka yang kerasukan Ruh Tuhan menjelma menjadi seorang nabi yang menyampaikan pesan-pesan ketuhanan kepada komunitasnya. Dalam Injil Yohanes, ia disebut sebagai Paraclete yang membimbing para pengikut Yesus setelah ia meninggal. Sedangkan dalam Quran, hanya orang-orang terpilih yang mendapatkan Ruh atas perintah Tuhan.
Keterkaitan Ruh dengan entitas ketuhanan dan arketipe Jung yang sarat dengan model metafisika, membuat kedua ide sulit beresonansi dengan keilmuan modern yang menekankan fisikalitas dan keterujian. Meski demikian, jurang epistemik ini bisa dijembatani lewat kacamata Predictive Processing yang merupakan salah satu paradigma kontemporer dalam Neurosains.
1. Model dan Prior
Dalam teori ini, otak dipandang sebagai sebuah mesin prediksi yang terus-menerus membangun model tentang dunia. Ia memprediksi input sensorik dan memperbarui model tersebut menggunakan sinyal kesalahan prediksi. Dalam kehidupan sehari-hari, kita menjalankan model kecil tanpa sadar: setelah bangun tidur, kita memprediksi urutan tindakan yang harus dijalani. Seperti turun dari tempat tidur, merapikan sprei, berjalan ke kamar mandi, buang air kecil, sikat gigi, cuci muka dan tangan, lalu memulai aktivitas berikutnya.
Ketika satu langkah gagal, misalnya pasta gigi habis, otak memperbarui modelnya. Ia memasukkan skenario baru: membeli pasta gigi, mencari toko yang buka, lalu menyesuaikannya dengan jadwal rutinitas harian. Prediksi-prediksi yang menjadi dasar semua penyesuaian ini disebut priors.
Dalam kerangka Predictive Processing, Ruah bisa dipahami sebagai model tingkat tinggi atau high-level prior yang mengorganisasi seluruh hierarki prediksi di bawahnya. Dengan demikian otak tidak hanya mengolah data mentah yang didapat dari sensor tubuh, tapi juga mengolah model tingkat tinggi yang berisi keyakinan paling abstrak, seperti moral, makna, identitas kolektif dan arah sejarah.
Ketika Ruah “merasuk”, model tingkat tinggi itu menggantikan prior-prior biasa yang mengatur perilaku sehari-hari. Akibatnya, persepsi, emosi, dan tindakan seseorang yang "kerasukan" ruah berubah drastis. Ia tidak lagi merespons dunia sebagai manusia biasa, tapi sebagai pembawa pesan Tuhan yang melihat pola tersembunyi di balik peristiwa. Ia menekan prediksi kesalahan di level bawah dan memaksa seluruh sistem untuk menyesuaikan diri. Orang yang mengalaminya akan merasa “bukan aku yang berbicara”, karena apa yang ia katakan dan tindakan memang dihasilkan oleh model yang melampaui ego personal.
Menjadi pertanyaan, bagaimana cara seseorang mengadopsi model dan prior eksternal ini ke dalam otaknya? Di sini saya mengajukan hipotesis tiga elemen penting yang melahirkan fenomena kenabian:
- Narasi (Mitologi, kitab suci)
- Host
- Timing
2. Narasi
Berbeda dari pemahaman keagamaan, adopsi model eksternal seperti Ruh, sebenarnya tidak membutuhkan agen metafisik macam Tuhan atau malaikat untuk bisa berjalan. Hal ini dikarenakan, model dan prior bagi sosok nabi sudah tersedia secara bebas dalam bentuk topos yang terdapat pada mitologi dan teks-teks agama dan telah menjadi bagian dari ingatan kolektif sebuah komunitas.
Lewat ingatan kolektif ini seseorang bisa memahami tahapan-tahapan kenabian, yang biasanya terdiri dari fase-fase berikut ini:
- Fase penyangkalan berupa usaha sadar untuk menolak menjalankan peran tersebut, macam Musa yang menganggap dirinya tidak pantas karena gagap saat berbicara atau Muhammad yang beralasan tidak bisa membaca.
- Konflik internal, di mana Model-Diri Tipikal dalam otak yang condong pada cara hidup yang nyaman, ikatan sosial dan rasa aman, berkonflik dengan Model-Meta Kenabian yang haus akan kebenaran, keadilan dan perubahan radikal. Pada fase inilah gejala-gejala psikosis seperti gemetar, atau isolasi diri terjadi.
- Fase pelarian. Konflik internal yang hebat seringkali membawa seseorang pada pelarian diri untuk menenangkan dirinya. Beberapa melarikan diri ke gurun, lainnya ke gua, atau berusaha menjelajah ke tempat yang jauh.
- Tidak ada jalan keluar. Tapi sejauh apapun ia pergi gagasan untuk menyampaikan kebenaran terus merongrong dirinya. Pada fase inilah otak menyadari bahwa model lama telah mati dan tidak ada jalan pulang.
- Adopsi. Pada akhirnya individu menyerah untuk melawan "takdir" dirinya dan mulai mengadopsi model sebagai seorang nabi. Pada fase ini konflik internal mulai mereda, nabi dan kenabian menjadi satu kesatuan.
Gambaran tentang tahap-tahap kenabian yang kerap muncul dalam mitologi dan teks-teks agama ini pada akhirnya berfungsi sebagai petunjuk bagi para "calon" nabi, sekaligus validasi bagi visi yang dianut. Namun yang palling penting adalah perjalanan hidup tokoh-tokoh tertentu dalam mitologi maupun kitab suci.
Perjalanan hidup tokoh-tokoh ini menjadi daya tarik tersendiri dan kelak menjadi role model bagi para aspiran kenabian. Contoh paling baik adalah figur Musa yang menjadi model bagi Muhammad.
3. Host
Sebuah skrip tidak akan berjalan tanpa otak yang tepat yang menjadi hosting bagi template sosial ini. Tapi otak macam apa yang mampu menjalankan sebuah model berisiko tinggi? Beberapa kriteria yang bisa digunakan mulai dari kepekaan tinggi terhadap ketidakselarasan, kapasitas untuk fokus intens dan isolasi diri, serta tidak terlalu bergantung kepada umpan balik sosial sesaat, sehingga mampu menjaga koherensi model baru di tengah tekanan. Hingga plastisitas pada jaringan identitas diri. Karakter seperti ini lebih banyak ditemukan pada individu atipikal ketimbang tipikal.
Individu tipikal biasanya memiliki precision weighting yang stabil: ia memberi bobot tinggi pada prediksi berbasis realitas sehari-hari, dan menekan sinyal dari dalam (imajinasi). Sebaliknya, pada individu atipikal seperti mereka dengan skizotipi tinggi (bedakan dengan skizofernia), absorbsi tinggi dan hiper-mentalisasi, penekanan bisa bergeser. Sinyal prediksi dari level atas seperti dari mitologi, diberi bobot berlebih, sementara bukti sensorik yang bertentangan dikecilkan. Akibatnya, pengalaman subjektif macam kerasukan Ruh atau wahyu terasa lebih nyata dan tidak dianggap sebagai halusinasi.
Sejumlah trait atipikal seperti cara berjalan yang cepat, cara berbicara yang sangat teratur atau sebaliknya kesulitan berbicara, cara berkomunikasi dengan menghadap bisa diamati dalam catatan sejarah mulai dari Musa dengan hambatan bicaranya yang menunjukkan reaktivitas tinggi terhadap disonansi, Socrates yang mengalami kondisi stasis atau mematung selama berjam-jam saat memproses model internalnya, hingga Muhammad yang selalu memutar seluruh tubuhnya saat berinteraksi sebagai bentuk fokus monotropisme yang absolut. Trait ini juga tampak pada Joan of Arc yang memiliki plastisitas identitas luar biasa untuk mengakomodasi "suara" visiuner.
Individu dengan trait atipikal inilah yang seringkali menjadi host terbaik bagi skrip kenabian. Meski demikian, adopsi ini tidak akan terjadi tanpa adanya elemen penting berikutnya, timing.
4. Timing
Pada kondisi sosial masyarakat yang stabil, kombinasi narasi dan host yang tepat tidak selalu menghasilkan nabi. Butuh waktu yang tepat pula seperti peperangan, penjajahan dan penindasan serta kebangkrutan moral untuk melahirkan karakter ini. Masa-masa ketika sebuah komunitas tidak lagi mampu memprediksi keberlanjutan diri mereka. Waktu krisis inilah yang memberikan dorongan besar yang memantik "profetik Prior" dalam diri host.
Pada sisi lain, butuh waktu bertahun-tahun pula bagi host untuk bisa memahami situasi, memetakan masalah, dan mencari solusi. Termasuk kondisi psikisnya seperti saat mengalami krisis eksistensial yang memberikan goncangan pada prediksi dan model dunia yang ia bangun. Dengan demikian ada dua jenis trigger, yakni latar belakang sosial masyarakat dan krisis eksistensial yang dialami oleh seorang tokoh.
5. Konten
Pada umumnya, para nabi menyatakan dirinya membawa pesan dari Tuhan, macam Musa, Kassandra, Socrates, Jeremiah, Yesus, Mani, hingga Muhammad. Tapi Tuhan yang mana yang berbicara dengan mereka, sangat tergantung kepada model yang dipakai oleh setiap individu. Model ini tentu saja dipengaruhi oleh budaya dan kepercayaan yang dianut. Bisa juga sintesis dari dua model seperti Muhammad yang mengaplikasikan model Judaisme ke dalam konteks kearaban, atau Mani yang menggabungkan model Kristen dengan Buddhisme.
Beragamnya rujukan kepada Tuhan, dan model serta prior yang digunakan yang sangat tergantung kepada budaya, menunjukkan bahwa kenabian adalah peristiwa natural. Hal ini diperkuat dengan kehadiran karakter nabi yang tidak terkait sama sekali dengan Tuhan, seperti pada Buddha dan Nietzsche.
Tuhan personal sendiri adalah cultural attractor paling optimal untuk meminimalkan kesalahan prediksi di level sosial. Konsep Tuhan yang Maha Tahu, Maha Kuasa, dan berkehendak menyediakan agency detection yang sangat kaya dan bisa diproyeksikan sebagai sumber tunggal dari semua sinyal yang sebelumnya kacau. Di masa krisis, ketika ketidakpastian menjadi norma, mengatributkan perkataan kepada Tuhan adalah cara paling efisien untuk menyatukan dan memberi bobot maksimal pada sistem baru.
Selain itu, klaim otoritas ilahi mempercepat adopsi kolektif. Pada kasus Buddha, keutuhan akan Tuhan tidak diperlukan karena jalan yang dipakai bersifat individualistis dan bertahap, sementara pada Musa dan Muhammad, yang hendak mentransformasi tatanan sosial politik dengan cepat, kebutuhan akan hyper-prior dengan otoritas absolut adalah sebuah keniscayaan.
6. Nasib Para Nabi
Tidak semua misi nabi berjalan sukses. Hanya sebagian kecil saja yang bernasib seperti Musa (jika ia benar-benar ada) dan Muhammad yang menjelma menjadi ubermensch. Kebanyakan justru bermasalah dengan institusi sosial dan politik. Sosok seperti Socrates, Jeremiah, dan Yesus, adalah contoh dari nabi-nabi yang harus berhadapan dengan realitas sosial politik yang kejam. Nama lain seperti Kassandra dan Nietzsche harus berakhir tragis dalam kegilaan.
Kuatnya penolakan terhadap sosok nabi sebenarnya tidak mengherankan, sebab kehadiran mereka tergolong disruptif bagi sistem sosial politik yang established pada masanya. Agama sendiri, yang dibangun oleh para nabi justru menjadi institusi paling kuat yang menolak kehadiran mereka. Judaisme misalnya, menutup pintu kenabian setelah Malakhi dan mengalihkan pendalaman ke studi teks-teks agama. Hal serupa juga dapat ditemukan dalam Islam yang menutup pintu kenabian setelah Muhammad.
Meski demikian, karena kenabian pada dasarnya adalah peristiwa natural, sosok yang mengambil peran Musa dan Muhammad akan selalu muncul. Selama individu dengan trait atipikal lahir, dan masyarakat selalu jatuh pada jurang krisis, dan kode-kode kenabian masih terus dibacakan dari generasi ke generasi lewat mitologi dan teks-teks agama, maka kemungkinan lahirnya sosok yang "kerasukan" Ruach Elohim, nabi, atau Metteyya, tidak akan pernah berhenti.
Kita barangkali tidak mampu mengidentifikasi para "nabi" ini dengan segera. Tapi yang menakjubkan adalah, bagaimana mitologi dan bahasa yang tampak kuno justru menjadi mesin paling efektif untuk melahirkan masa depan. Selama ada cerita yang sanggup membuat model tingkat tinggi, akan selalu ada otak yang siap menjadikannya hidup. Tidak heran bila para diktator sering kali alergi dan menyensor kisah-kisah fiksi.
*Catatan ini ditulis berdasarkan hasil diskusi dengan AI.

Posting Komentar untuk "Nietszche, Ruach, dan Neurosains: Model Naturalistik atas Konsep Kenabian"
Posting Komentar